SAMARINDA – Ekonomi Sudan yang berkembang pesat setelah diterapkannya ekonomi Islam sejak tahun 1977, membuat Universitas Mulawarman mengundang ahli ekonomi asal Sudan untuk membahas prinsip dasar ekonomi Islam. “Indonesia atau Kaltim merupakan wilayah yang memiliki jumlah penduduk Islam besar. Peluang meningkatkan pembangunan dengan menerapkan ekonomi Islam tentu sangat cocok di sini,” terang Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman (Fekon Unmul) Zamruddin Hasid.
Karena itulah, ahli ekonomi dari Universitas Alquranul Qariem, Sudan, Said Salman, diundang menjadi pembicara dalam dialog bertema “Prinsip-prinsip dalam Eekonomi Islam” di lantai 3 Gedung Dekanat Fekon, Kamis (29/7) lalu. Acara dihadiri seluruh dosen dan sejumlah mahasiswa Fekon.
Kepada media ini, Said Salman menjelaskan, peluang penerapan ekonomi Islam di Kaltim sangat besar dan menguntungkan. Prinsipnya, penerapan ekonomi Islam dapat dilakukan selama masyarakat tidak menolak atau ditentang.
Selain itu, harus juga dipahami prinsip dasar investasi dana yang dilakukan investor hanya dilakukan jika investor melihat peluang memperoleh laba atau keuntungan yang besar. “Di sinilah pemerintah sangat berperan besar dalam mengeluarkan undang-undang atau peraturan terkait bank sentral yang menjadi pusat pengaturan sistem ekonomi Islam,” terang pria yang mengenakan sorban putih ini.
Untuk mempelajari dan menerapkan ekonomi Islam, maka harus memahami tentang akidah dan fiqih Islam. Karena kedua ilmu ini yang menjadi landasan dalam penerapan ekonomi Islam. “Ekonomi Islam ini telah ada ribuan tahun lalu. Bahkan ekonomi Islam terbukti memberikan pembangunan yang pesat dalam peradaban Islam jika dibandingkan sistem ekonomi konvensional yang menyebabkan krisis global,” ucapnya.
Rahasia utama dari ekonomi Islam, kata dia, yakni pada proses sistem bagi hasil dari dana yang diinvestasikan. Misalnya di sektor perbankan, bank konvensional hanya memberikan bunga sebesar 4 persen, sementara dengan sistem bagi hasil dapat diperoleh keuntungan antara 13 hingga 15 persen. ”Rahasianya terletak pada penggunaan dana yang diinvestasikan. Dalam ekonomi Islam, dana tersebut digunakan untuk sektor riil. Sementara di bank konvensional, banyak digunakan untuk pemberian utang,” bebernya.
Berkaca pada penerapan ekonomi Islam di Sudan, Said Salman mengatakan, pada awalnya juga mengalami penolakan. Tetapi pada tahun 1977, terdapat satu perbankan yang menerapkan sistem tersebut. Hanya dalam tempo 6 tahun, bank tersebut dapat menghasilkan laba yang sangat besar. Tak lama, bank tersebut juga membuka perusahaan asuransi dengan sistem ekonomi Islam. Hasilnya juga sama, keuntungan yang besar bagi perusahaan.
Melihat itu, pemerintah Sudan akhirnya belajar dan menerapkan ekonomi Islam di semua sektor. Pada akhirnya, penerapan sistem ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Keuntungan lain yang diperoleh Sudan sejak diberlakukannya ekonomi Islam, yakni, menurunnya tingkat inflasi setiap tahunnya. Jika sebelum diterapkan, tingkat inflasi mencapai 15 persen hingga 25 persen, setelah diterapkan, inflasi hanya berkisar antara 2 persen hingga 4 persen. ”Peluang Kaltim atau Indonesia dalam menerapkan ekonomi Islam juga besar. Karena sektor yang berperan dalam pembangunan di Sudan tidak berbeda jauh, yakni minyak, pertanian, dan peternakan,” ucapnya.
Sementara itu, Zamruddin Hasid juga mengakui, ekonomi Islam telah ada sejak ribuan tahun dan pernah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, ekonomi Islam dapat dipelajari dan diterapkan di Kaltim. ”Dalam ekonomi Islam, terdapat campur tangan Tuhan. Ini lebih baik dari ekonomi konvensional yang hanya dari pemikiran manusia. Jadi tinggal diikuti dan disesuaikan saja,” bebernya.(ak/kpnn)