BALIKPAPAN - Tampaknya, PT PT Bank Negara Indonesia Persero Tbk (BNI) tak main-main mengelola Kalimantan. Konon kabarnya, pulau terbesar di Indonesia ini merupakan lumbung keuntungan yang patut digarap maksimal. Salah satunya, menjadikan wilayah ini sebuah regional. Artinya, akses permodalan melalui kredit hingga yang menyangkut kegiatan prosepektif yang dimiliki Kalimantan, dengan mudah terealisir oleh BNI sementara keuntungan yang didapat para nasabahnya dari penggunaan mekanisme tersebut lebih intensif dukungan terhadap produk ritel di Kalimantan.
”Birokrasinya jadi pendek, tak perlu ke kantor pusat lagi seperti otonomi daerah-lah. Ini adalah sebuah transformasi dari produk sentrik menjadi customer sentrik,” terang Managing Director BNI, Honggo Widjojo saat ditemui di acara gathering dengan para nasabahnya bertitel, ”Tribute to Borneo” di Hotel Gran Senyiur, kemarin.
Ia mengurai, penggunaan metode tersebut berangkat dari Kalimatan yang serba dominan dalam menyumbang berbagai pertumbuhan positif di tubuh BNI. Sayangnya, ia tidak dapat mengurai data pendukungnya. Namun, soal potensial, sektor pertambangan, perkebunan menyusul perikanan masih menjadi sasaran untuk digarap. Masa transformasi itu, akan berlaku mulai 1 September mendatang. Sebagai bentuk sosialisasi, sedikitnya 180 nasabah yang dianggap memiliki loyalitas tinggi diundang hadir di acara gathering yang menghadirkan salah satu diva Indonesia, Reza Artamevia disamping apresiasi atas kesetiaannya menjadi nasabah sekaligus perayaan HUT BNI ke-64 berbungkus, 8 Windu BNI.
Dijelaskan, selama perjalanan di usianya yang sudah menua, tak sedikit keuntungan yang diberikan BNI kepada nasabah. Bukan hanya itu, ia mengklaim dari tahun ke tahun, BNI terus mencatatkan pertumbuhan yang positif. Seperti yang disebutknya, dalam skala nasional laba bersih BNI pada semester I tahun 2010 alami kenaikan 61 persen dari Rp 1,20 triliun menjadi Rp 1,93 triliun posisi semester I tahun 2009. Pencapaian ini seiring dengan peningkatan indikator keuangan, antara lain dengan peningkatan kualitas pinjaman yang ditandai dengan penurunan net non performing loan (NPL Net) dari 1,2% menjadi 0,9%.
”Salah satu pendorongnya dari sisi peningkatan fee income yang mencapai 48 persen. Nasabah semakin nyaman menggunakan layanan BNI sebagai transactional banking yang melayani kebutuhan transaksi perbankan,” ungkapnya bangga. Sejalan itu, komposisi dana murah, yang terdiri dari tabungan dan giro (CASA), juga meningkat dari 54 persen dari total DPK pada semester I tahun 2009, menjadi 60 persen dari total DPK pada semester I tahun 2010. (dra)