BALIKPAPAN - Acara temu bisnis Kadin bersama Wali Kota H Imdaad Hamid di Hotel Santika, kemarin, juga sampai pada kesimpulan, betapa pentingnya stakeholder di kota ini memiliki database pelaku UKM dan koperasi. Sehingga, arah pembinaan pelaku UKM dan koperasi juga makin jelas dan tidak tumpang tindih. “Memang lebih mudah kalau pelaku UKM itu membentuk kelompok usaha. Sehingga, pola pembinaannya jadi lebih fokus, termasuk dari sisi pemasaran produknya. Seperti kelompok usaha Amplang Kuku Macan, sebaiknya membentuk wadah—yang bisa dibina lewat kelompok itu,” ujar Kepala Bappeda H Soeryanto.
Kelompok usaha semacam ini, kata dia, perlu dibentuk agar pembinaan bisa lebih terarah dan Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan dapat memiliki database yang ideal. “Jika database itu ada, baik dari sisi jenis usaha dan jumlah pelaku usahanya, maka kita akan mudah dan bisa fokus dalam memprioritaskan pembinaan,” tututrnya.
Ia mencontohkan pembinaan pelaku UKM di Jepang, yang hanya dilakukan lewat satu koperasi di satu kota, namun besarnya usaha dan lokasi yang dikelola bisa mencapai 4-5 hektare. “Kondisinya memang berbeda dengan Indonesia. Tapi, kita bisa saja mencontoh pola pembinaan semacam ini,” tuturnya.
Dalam temu bisnis yang mengangkat topik “Peran Strategis Bappeda-Kadin Dalam Perencanaan Peningkatan Perekonomian Balikpapan Melalui Sektor UKM dan Koperasi” ini, anggota dewan pembina Kadin, Budi Setijahadi juga sempat membeberkan pemberdayaan UKM yang dilakukan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kaltim, dengan bunga rendah bagi pelaku UKM, yang hanya sekira 9 persen.
“Jadi, kalau ingin dapat kredit dengan bunga rendah, datang ke Apindo, karena Apindo sudah meneken MoU secara nasional dengan Bank Mayapada, dimana masing-masing pelaku UKM bisa dapat kredit Rp 50 juta lewat rekomendasi Apindo,” tutur Budi yang duduk di samping Ketua Apindo Kaltim, M Slamet BS.(rud)